Tuesday, 29 September 2026

SAAT KETINGGIAN JADI TANTANGAN: SERUNYA PELATIHAN VERTICAL RESCUE LATSARNAS PERTI KE-IX

  SAAT KETINGGIAN JADI TANTANGAN: SERUNYA PELATIHAN VERTICAL RESCUE LATSARNAS PERTI KE-IX

Makassar, Selasa, 29 September 2026, Ketinggian menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan kesiapan, ketelitian, dan keterampilan dalam kegiatan penyelamatan. Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman peserta Latihan SAR dan Rescue Nasional (Latsarnas) Perti Ke-IX melalui giat Vertical Rescue yang dilaksanakan di Kantor Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan, Jl. Poros Bandara Baru, Baji Mangngai, Makassar, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Vertical Rescue merupakan salah satu giat SAR dalam rangkaian Latsarnas Perti Ke-IX yang memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan dasar penyelamatan pada medan vertikal. Sebanyak 51 peserta mengikuti kegiatan yang dimulai dengan persiapan, pengarahan keselamatan, pengenalan perlengkapan, hingga praktik langsung di lapangan.

Kegiatan diawali dengan kedatangan dan persiapan peserta. Sebelum praktik dimulai, peserta terlebih dahulu mendapatkan pengarahan mengenai keselamatan serta tahapan pelaksanaan Vertical Rescue. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya ketelitian, kedisiplinan, komunikasi, dan kerja sama tim karena keselamatan menjadi aspek utama dalam setiap tahapan latihan.

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan berbagai perlengkapan keselamatan yang digunakan dalam Vertical Rescue, seperti helm, kacamata keselamatan, sarung tangan, body harness, seat harness, sepatu keselamatan, dan pakaian keselamatan. Selain mengenal fungsi setiap perlengkapan, peserta juga diberikan pemahaman mengenai penggunaan dan pemeriksaan alat sebelum digunakan.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan teknik simpul yang digunakan dalam kegiatan SAR, di antaranya simpul pangkal, simpul kambing, serta beberapa jenis simpul lainnya. Setelah mendapatkan penjelasan, peserta langsung mempraktikkan pembuatan simpul dengan didampingi oleh instruktur.

Setelah memahami materi dasar dan mempersiapkan perlengkapan keselamatan, peserta kemudian diarahkan untuk mengikuti praktik Vertical Rescue di lapangan. Pada tahap ini, peserta mulai menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh, mulai dari penggunaan perlengkapan, pengelolaan tali, penerapan simpul, hingga teknik dasar penyelamatan pada medan vertikal.

Praktik tersebut didampingi oleh tujuh instruktur, yaitu Lukman, Andi Herdiansyah, Alamsyah, Muhammad Fitrah Anugrah, Dirham Syarif, Muh. Farid Nur, dan Muh. Danial. Para instruktur memberikan arahan dan pendampingan selama proses latihan, sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan dengan memperhatikan prosedur keselamatan.

Suasana latihan berlangsung dengan antusias. Peserta tidak hanya dituntut untuk memahami teknik secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung melalui kerja sama tim. Komunikasi, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab menjadi bagian penting yang terus dilatih selama praktik berlangsung.

Melalui giat Vertical Rescue ini, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengenal dan menggunakan perlengkapan keselamatan, mempraktikkan teknik dasar tali dan simpul, serta memahami penerapan penyelamatan pada medan vertikal. Kegiatan ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Latsarnas Perti Ke-IX untuk membangun kesiapan, keterampilan, dan kerja sama peserta dalam menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan kemampuan SAR.

Dengan semangat dan antusiasme peserta selama mengikuti seluruh tahapan, giat Vertical Rescue Latsarnas Perti Ke-IX berlangsung hingga praktik lapangan selesai dilaksanakan.



Citizen : Muh Rifki Ramadan

Editor : UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

Monday, 28 September 2026

KADER PRAMUKA DIERA KOLABORASI, MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN BUDAYA LOKAL DI INDONESIA

KADER PRAMUKA DIERA KOLABORASI, MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN BUDAYA LOKAL DI INDONESIA


Pramuka UNM - Senin, 28 September 2026 telah berlangsung kegiatan Jumpa Tokoh dan Festival Nusantara Latihan Search and Rescue Tingkat Nasional Pramuka Perguruan Tinggi ke-IX Tahun 2026.

Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 20.00 WITA di halaman Pascasarjana UNM tepatnya di Area Camp. Jumpa Tokoh dihadiri oleh Kepala Kantor Perwakilan LPS III Wilayah Sulawesi, Maluku, Papua, Fuad Zaen, Ricki Andika Karumpa Kabid rehabilitasi dan rekokontruksi BPBD  kota Makassar Unsur Gugusdepan 08-095 & 08-096 Pangkalan UNM, Panitia dan Peserta Latsarnas Pramuka Perguruan Tinggi ke-IX Tahun 2026.

Kakak Fuad Zaen menyampaikan "Menjadi kader pramuka tidak hanya belajar tali temali dan baris berbaris, tapi menjadi kader yang update dengan perkembangan sanggar".

Rangkaian Jumpa Tokoh diselingi dengan kegiatan Festival Nusantara dimana kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan ciri khas budaya daerah masing-masing. 




Citizen Report: A. Saskia Dwi Afika Idrus

Editor: Humas Pramuka UNM

Selengkapnya...

Fire Rescue LATSARNAS IX: Peserta Belajar Tanggap Kebakaran Bersama Damkar Kota Makassar

Fire Rescue LATSARNAS IX: Peserta Belajar Tanggap Kebakaran Bersama Damkar Kota Makassar

Makassar, 28 September 2026  Kemampuan menghadapi situasi darurat menjadi salah satu bekal penting dalam kegiatan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026. Melalui sesi Fire Rescue, sebanyak 57 peserta LATSARNAS IX mendapatkan pengalaman langsung mengenai penanganan awal kebakaran, penggunaan alat pemadam, hingga pengenalan perlengkapan yang digunakan dalam proses penyelamatan bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Makassar.

Kegiatan berlangsung pada Senin (28/9), mulai pukul 15.45 WITA hingga selesai, bertempat di halaman area Pascasarjana UNM. Sesi ini menghadirkan lima personel Damkar Kota Makassar, yaitu Ismail Abdullah, S.STP., selaku Kepala Bidang Penyelamatan; Idham Khalid Ardiyanto, S.P., selaku Kepala Seksi Pengendali Operasi, Penyelamatan, Evakuasi Kebakaran dan Non Kebakaran; M. Hidayatullah, selaku Operator Layanan Operasional; Irham Intje, selaku Pemadam Kebakaran Pemula; serta Firdaus, selaku Pemadam Kebakaran Pemula.

Mengenal Fire Rescue dan Penanganan Kebakaran

Fire rescue merupakan bagian dari kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat akibat kebakaran. Dalam praktiknya, penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan memadamkan api, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk mengenali kondisi, menggunakan perlengkapan yang tepat, menjaga keselamatan diri, serta memahami tindakan penyelamatan yang dapat dilakukan sesuai situasi.

Pemahaman tersebut diperkenalkan kepada peserta melalui pembelajaran yang bersifat praktik. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan dari personel Damkar, tetapi juga melihat secara langsung penggunaan peralatan yang digunakan dalam menghadapi kondisi kebakaran.

Salah satu materi utama dalam sesi Fire Rescue adalah pengenalan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Personel Damkar menjelaskan fungsi APAR serta cara penggunaannya dengan benar. Setelah mendapatkan arahan, peserta kemudian diberikan kesempatan untuk mempraktikkan pemadaman api secara langsung.

Api terlebih dahulu dinyalakan sebagai media simulasi. Peserta kemudian mencoba menggunakan APAR untuk memadamkan api dengan tetap mendapatkan arahan dan pengawasan dari personel Damkar. Praktik ini memberikan gambaran kepada peserta mengenai pentingnya ketepatan tindakan ketika menghadapi kebakaran pada tahap awal.

Mengenal Perlengkapan Penyelamatan Kebakaran

Setelah praktik APAR, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan berbagai perlengkapan yang digunakan petugas Damkar dalam menjalankan tugas penyelamatan. Salah satunya adalah pakaian pelindung yang digunakan dalam kondisi kebakaran dengan paparan asap yang tebal.

Peserta diperkenalkan dengan fungsi perlengkapan tersebut sebelum diberikan kesempatan untuk mencoba mengenakannya. Penggunaan perlengkapan dilakukan di bawah pengawasan langsung personel Damkar sehingga peserta dapat memahami bagaimana perlengkapan keselamatan digunakan dalam situasi kebakaran.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran Fire Rescue. Kondisi kebakaran memiliki risiko yang berbeda-beda sehingga penanganannya membutuhkan kesiapan, perlindungan diri, pemahaman terhadap peralatan, serta tindakan yang terarah.

Belajar Sigap, Bukan Sekadar Berani

Melalui sesi Fire Rescue, peserta LATSARNAS IX diajak memahami bahwa menghadapi kebakaran tidak cukup hanya dengan keberanian. Setiap tindakan membutuhkan pengetahuan mengenai kondisi yang dihadapi, penggunaan alat yang sesuai, serta perhatian terhadap keselamatan diri dan orang lain.

Hal tersebut sejalan dengan peran fire rescue yang menempatkan kemampuan penanganan keadaan darurat dan penyelamatan sebagai bagian penting dalam menghadapi kebakaran. Dalam panduan penyelenggaraan pencarian dan pertolongan Basarnas, penanganan kondisi kebakaran juga melibatkan penggunaan peralatan pemadam tertentu serta mengutamakan keselamatan dalam pelaksanaan operasi. Damkar menjadi salah satu unsur yang memiliki fungsi dalam fire fighting, fire prevention, dan fire investigation.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara berbagai unsur dalam penanganan keadaan darurat. Pengetahuan yang diberikan oleh personel Damkar menjadi pengalaman lapangan bagi peserta untuk memahami bahwa proses penyelamatan membutuhkan kesiapan personel, perlengkapan yang tepat, dan koordinasi yang baik.

Selain peserta, sejumlah panitia turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Divisi Pubdok bertanggung jawab dalam mendokumentasikan rangkaian kegiatan, Divisi Kegiatan Umum/Acara turut memastikan konsep kegiatan berjalan sesuai dengan rancangan, sedangkan Divisi Perlengkapan mempersiapkan berbagai kebutuhan yang digunakan selama pelaksanaan Fire Rescue.

Melalui kegiatan ini, peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 memperoleh pengalaman langsung dalam mengenal penanganan kebakaran, mempraktikkan penggunaan APAR, serta memahami fungsi perlengkapan penyelamatan. Pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk lebih sigap dan siap menghadapi kondisi darurat, khususnya yang berkaitan dengan kebakaran.

Sesi Fire Rescue kemudian ditutup setelah seluruh rangkaian materi, demonstrasi, dan praktik bersama personel Damkar Kota Makassar selesai dilaksanakan.



Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

Peserta LATSARNAS PERTI IX 2026 Belajar Penanganan Luka melalui Praktik PPGD

Peserta LATSARNAS PERTI IX 2026 Belajar Penanganan Luka melalui Praktik PPGD

Makassar Setelah mengikuti pembukaan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, para peserta melanjutkan rangkaian kegiatan dengan materi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan berlangsung di Ballroom Lantai 2, Gedung D Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM).

PPGD menjadi salah satu rangkaian penting dalam LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 karena memberikan pemahaman dasar kepada peserta mengenai langkah awal dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya ketika terjadi luka dalam kecelakaan atau kejadian di jalan.

Materi mengenai cara menangani berbagai jenis luka disampaikan oleh Kakak Buniyaman, St., Dalam penyampaiannya, peserta terlebih dahulu diberikan penjelasan mengenai jenis-jenis luka serta langkah yang tepat dalam memberikan pertolongan pertama.

Kegiatan ini juga tetap didampingi oleh beberapa Pembina Racana dan Ambalan Ranggong Dg. Romo dan Opu Dg. Risadju, Pembantu Pembina Ambalan, serta Narasumber Ahli Racana Ranggong Dg. Romo dan Opu Dg. Risadju. Pendampingan tersebut dilakukan selama proses pembelajaran dan praktik untuk membantu memastikan peserta dapat mengikuti setiap tahapan dengan baik.

Kak Buniyaman tidak hanya menjelaskan materi secara teori, tetapi juga memperagakan secara langsung tahapan penanganan luka. Demonstrasi tersebut menjadi contoh awal sebelum peserta mencoba mempraktikkannya secara mandiri.



Setelah mendapatkan penjelasan dan demonstrasi, peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan sejumlah kasus atau kondisi luka yang harus ditangani sesuai dengan materi yang telah dipelajari.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan langkah penanganan secara tepat. Kak Buniyaman turut mengamati proses praktik masing-masing kelompok dan memberikan evaluasi terhadap cara peserta menangani kasus yang diberikan.


Berbagai jenis luka dan situasi penanganannya diperkenalkan dalam sesi tersebut. Peserta diberikan kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, serta memperbaiki langkah yang masih kurang tepat berdasarkan evaluasi yang diberikan.

Antusiasme terlihat sepanjang proses pembelajaran. Peserta aktif mengikuti demonstrasi, mencoba setiap tahapan penanganan, serta menunjukkan rasa ingin tahu terhadap berbagai kondisi luka yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari maupun situasi kegawatdaruratan.

Bagi Kak Buniyaman, pemahaman mengenai pertolongan pertama tidak hanya penting bagi tenaga kesehatan, tetapi juga perlu dimiliki masyarakat umum agar dapat memberikan penanganan awal ketika terjadi kondisi darurat. 

“Pembelajaran seperti ini harus dipahami oleh orang-orang awam, terutama cara menangani luka, supaya kita tahu bagaimana memberikan penanganan pertama terhadap luka.”

Melalui materi PPGD, LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 tidak hanya memberikan pengalaman kegiatan kepada para peserta, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat. 


Kombinasi antara pemaparan materi, demonstrasi, praktik kelompok, dan evaluasi membuat pembelajaran berlangsung secara aktif. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk lebih siap memberikan pertolongan pertama secara tepat ketika menghadapi kejadian yang membutuhkan penanganan awal.




Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : Humas UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

Sunday, 27 September 2026

Seminar Kebencanaan Warnai Rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Hadirkan Narasumber dari Basarnas, Dinsos, dan BPBD Sulawesi Selatan

Seminar Kebencanaan Warnai Rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Hadirkan Narasumber dari Basarnas, Dinsos, dan BPBD Sulawesi Selatan


Makassar, 28 September 2026 – Sebagai bagian dari Latihan Search and Rescue Tingkat Nasional Perguruan Tinggi (LATSARNAS PERTI) ke-IX Tahun 2026, Racana Ranggong Dg. Romo & Ambalan Opu Dg. Risadju menggelar Seminar Kebencanaan pada Senin, 28 September 2026, pukul 08.00 WITA hingga selesai. Seminar ini bertempat di Ballroom Teater Lt. 3 Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM).

Seminar ini diikuti oleh seluruh peserta LATSARNAS PERTI IX dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bersama panitia dan tamu undangan. Kegiatan ini menjadi bekal awal bagi peserta sebelum menjalani materi dan praktik lapangan pada hari-hari berikutnya.

Tiga Narasumber dari Instansi Penanggulangan Bencana

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari instansi yang berperan langsung dalam penanggulangan bencana di Sulawesi Selatan:

Kak Haris Supardi, S.Sos., M.M., Kepala Seksi Sumber Daya Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan, Kak Herman, S.E., M.H., Ketua Bidang Linjamsos Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Kak Dr. Amson Padolo, S.Sos., M.Si., Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan

Kak Rifki Hidayat memandu jalannya seminar, mulai dari penyampaian materi oleh ketiga narasumber hingga sesi tanya jawab.

Adapun Materi yang Disampaikan tentang

Kak Haris Supardi membahas tentang, peran Basarnas dalam operasi pencarian dan pertolongan, serta kesiapan sumber daya SAR saat terjadi bencana.

Kak Herman menyampaikan materi tentang perlindungan dan jaminan sosial bagi korban bencana, termasuk penanganan pengungsi dan bantuan sosia.

Kak Dr. Amson Padolo memaparkan sistem penanggulangan bencana di Sulawesi Selatan, mulai dari mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab. Pertanyaan yang di berikan oleh peserta salah satu pertanyaan yang di tanyakan oleh peserta adalah

“Kenapa pada saat terjadinya bencana dan ada yang namanya lokasi pengungsian, tetapi kenapa ada kasus kematian dilokasi pengungsian padahal sudah ditangani oleh pihak BASARNAS sendiri”

Menanggapi pertanyaan tersebut, pemateri menjelaskan bahwa ketika terjadi bencana, proses penanganan tidak berhenti pada pencarian dan penyelamatan oleh Basarnas. Operasi SAR memang menjadi bagian penting dalam fase tanggap darurat, tetapi setelah korban ditemukan dan dievakuasi, masih ada proses penanganan berikutnya, seperti pelayanan kesehatan, pengelolaan tempat pengungsian, pemenuhan kebutuhan logistik, hingga perlindungan bagi kelompok rentan.

“Jadi, ketika kita berbicara tentang korban yang meninggal di lokasi pengungsian, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa itu merupakan kegagalan dari satu pihak. Penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama dan melibatkan banyak unsur. Basarnas memiliki tugas dalam pencarian dan pertolongan, sementara setelah proses evakuasi ada sektor lain yang juga memiliki peran dalam pelayanan kesehatan, pengelolaan pengungsian, logistik, dan perlindungan masyarakat.”

Pemateri juga menekankan bahwa kondisi di lapangan sangat kompleks sehingga membutuhkan sistem komando, koordinasi lintas sektor, komunikasi yang efektif, serta pembagian tugas yang jelas. Karena itu, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh satu instansi, melainkan oleh kerja sama seluruh pihak yang terlibat.

“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh unsur dapat berkoordinasi. Tujuan utama kita adalah menyelamatkan jiwa dan memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. Karena itu, manajemen bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama.”

Diskusi ini memperkaya pemahaman peserta tentang tantangan nyata di lapangan saat bencana terjadi.

Bekal Ilmu untuk Relawan Pramuka

Seminar ditutup dengan penyerahan cendera mata/sertifikat kepada narasumber dan foto bersama. Melalui seminar ini, peserta diharapkan tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami bagaimana berbagai instansi bekerja sama dalam penanggulangan bencana. Dengan begitu, Pramuka Perguruan Tinggi siap mengambil peran sebagai relawan yang tanggap dan terkoordinasi.

Semangat ini sejalan dengan motto LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026:

"SIGAP DALAM AKSI, IKHLAS DALAM PENGABDIAN."



Citizen : Shafira Ham Volina

Editor : Humas UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 Resmi Dibuka, Satukan Semangat Pramuka Perguruan Tinggi di Kota Makassar

LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 Resmi Dibuka, Satukan Semangat Pramuka Perguruan Tinggi di Kota Makassar

Makassar Latihan Search and Rescue Tingkat Nasional (LATSARNAS) PERTI IX Tahun 2026 resmi dibuka pada Senin, 28 September 2026. Pembukaan berlangsung di Ballroom Teater Lantai 3 Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan menjadi awal pelaksanaan rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 yang mempertemukan Pramuka Perguruan Tinggi dari berbagai daerah.

Mengusung semangat kebersamaan, kesiapsiagaan, dan pengabdian, pembukaan dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari perwakilan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, instansi pemerintah, lembaga terkait, pembina, narasumber ahli, purna, hingga peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Sejumlah tamu undangan yang hadir di antaranya Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa), Kakak Dr. Rahmansyah, M.Si.; Kakak Haris Supardi, S.Sos., M.M. dari BASARNAS Provinsi Sulawesi Selatan; perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan; perwakilan Kepala Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Wilayah Sulawesi, Papua, dan Maluku; Kakak Arif Machfoed; serta Ketua Satuan Tugas Pramuka Peduli Kwartir Daerah Sulawesi Selatan.

Hadir pula kakak-kakak pembina Racana Ranggong Dg. Romo dan Opu Dg. Risadju, narasumber ahli, pembantu pembina, para purna, serta undangan lainnya. Selain itu, pembukaan turut diikuti oleh berbagai unsur undangan dari instansi, sekolah, PPG, dan lembaga lainnya bersama peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Seluruh hadirin mengenakan seragam Pramuka lengkap sebagai dress code pembukaan. Busana tersebut tidak hanya menjadi identitas kegiatan, tetapi juga memperlihatkan semangat persatuan seluruh unsur yang hadir dalam pembukaan.

Prosesi Pembukaan 

Pembukaan dipandu oleh Master of Ceremony (MC) Kakak Harfani. Acara diawali dengan pembacaan prolog oleh Kakak Elvira, kemudian dilanjutkan dengan penampilan Angngaru oleh Kakak Andika, Osong oleh Kakak Riswan, dan Dirigen oleh Kakak Aulia.

Suasana semakin semarak melalui Tari Paduppa yang dibawakan oleh anggota UKM Pramuka UNM. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Kakak Fathur dan penampilan Tari 4 Etnis oleh anggota UKM Pramuka UNM.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya, Hymne Pramuka, dan Mars Pramuka secara bersama-sama.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam pembukaan adalah penampilan Aru 2 Suku, yang menghadirkan dua tradisi lisan dari Sulawesi Selatan, yakni Angngaru dari suku Makassar dan Osong dari suku Bugis.

Angngaru merupakan tradisi lisan sakral masyarakat Makassar yang mengandung ikrar atau sumpah kesetiaan. Sementara itu, Osong merupakan tradisi lisan yang berasal dari masyarakat Bugis. Kehadiran kedua tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai budaya lokal dalam pembukaan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Buka Adat Sebelum Memulai Rangkaian

Setelah penampilan budaya, prosesi dilanjutkan dengan buka adat yang dilakukan oleh Dewan Ambalan dan Dewan Racana Ranggong Dg. Romo dan Opu Dg. Risadju.

Buka adat menjadi bagian dari tradisi sebelum dimulainya rangkaian kegiatan. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap adat sekaligus simbol kesiapan untuk memasuki seluruh agenda LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Usai buka adat, acara dilanjutkan dengan laporan ketua panitia, kemudian memasuki sesi sambutan dari sejumlah pihak.

Sambutan disampaikan oleh Ketua Gugusdepan 08-095 Pangkalan Universitas Negeri Makassar, Kakak Prof. Dr. Hj. Andi Kasmawati, M.Hum. Selanjutnya, sambutan sekaligus pembukaan acara disampaikan oleh Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa), Kakak Dr. Rahmansyah, M.Si.

Dipukulnya Bedug Tandai Resmi Dibukanya LATSARNAS PERTI IX

Momen utama pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug oleh Kakak Dr. Rahmansyah, M.Si., selaku Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa).

Pemukulan bedug tersebut menjadi simbol dimulainya secara resmi LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026. Momentum ini sekaligus menandai dimulainya perjalanan para peserta dalam mengikuti berbagai agenda yang telah disiapkan selama pelaksanaan kegiatan.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyematan tanda peserta sebagai simbol bahwa para peserta telah resmi menjadi bagian dari LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Setelah penyematan tanda peserta, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan kembali menghadirkan penampilan budaya melalui Tari 4 Etnis.

Tari 4 Etnis Hadirkan Kekayaan Budaya Sulawesi Selatan

Tari 4 Etnis merupakan tarian khas Sulawesi Selatan yang menampilkan representasi empat suku besar, yaitu Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.

Bagian pertama menggambarkan Suku Makassar melalui Tari Pakarena, yang dikenal dengan gerakan tangan yang lembut dan penggunaan kipas sebagai bagian dari karakter tari.

Selanjutnya, Suku Bugis melalui Tari Pajoge menampilkan gerakan yang lebih dinamis dan ekspresif sebagai gambaran keceriaan masyarakat Bugis.

Kemudian, Suku Mandar melalui Tari Patuddu menghadirkan gerakan yang lemah gemulai dan riang, dengan penggunaan properti seperti kipas atau selendang.

Rangkaian ditutup dengan Tari Pa'gellu dari Suku Toraja, yang memiliki ciri khas gerakan patahan pada pergelangan tangan serta tepukan tangan yang enerjik.

Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan keberagaman budaya Sulawesi Selatan sekaligus memberikan warna tersendiri dalam pembukaan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Setelah seluruh prosesi pembukaan selesai, acara kemudian ditutup dan dilanjutkan dengan sesi hiburan. Kehadiran berbagai unsur dalam pembukaan menjadi awal dari rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 yang tidak hanya berfokus pada keterampilan dan kesiapsiagaan, tetapi juga memperkuat nilai persaudaraan, budaya, serta semangat pengabdian dalam Gerakan Pramuka.

Dengan resmi dibukanya LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, seluruh peserta dari berbagai perguruan tinggi siap mengikuti rangkaian agenda yang telah dipersiapkan. Semangat “SIGAP DALAM AKSI, IKHLAS DALAM PENGABDIAN” menjadi bagian dari energi yang mengiringi perjalanan kegiatan di Kota Makassar.

 




Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : UKM Pramuka UNM








Selengkapnya...

Malam Pangngada’kang LATSARNAS PERTI IX 2026, Satukan Persaudaraan Pramuka dalam Balutan Budaya Makassar

 Malam Pangngada’kang LATSARNAS PERTI IX 2026, Satukan Persaudaraan Pramuka dalam Balutan Budaya Makassar


Makassar — Rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 menghadirkan Malam Pangngada’kang pada Minggu malam, 27 September 2026. Berlangsung mulai pukul 20.00 WITA hingga selesai di Area Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), malam kebersamaan ini mempertemukan perwakilan dari 14 perguruan tinggi, bersama kakak-kakak pembina, purna, dan tamu undangan.

Mengenakan pakaian batik, para peserta mengikuti malam tersebut dengan nuansa budaya dan kekeluargaan yang kental. Malam Pangngada’kang menjadi salah satu momentum untuk mengenalkan nilai tata krama dan budaya Makassar kepada para peserta dari berbagai daerah.

Acara diawali dengan Tari Pangngada’kang yang dikoordinasikan oleh Kak Andi Saskia. Dalam budaya Makassar, pangngada’kang berkaitan dengan norma, tata krama, serta sikap yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati dan menghargai sesama. Pesan tentang kesopanan, kerendahan hati, dan kepatuhan terhadap nilai adat disampaikan melalui gerak tari.

Setelah penampilan tersebut, MC membuka acara dengan menyapa tamu undangan dan seluruh hadirin. Sambutan pertama disampaikan oleh Kak Musdar Asman, S.Pd., M.Pd., selaku Narasumber Ahli Racana Ranggong Dg. Romo.

Selanjutnya, Kak Andi Baetal Mukaddas, S.Pd., M.Pd., selaku Narasumber Ahli Racana Ranggong Dg. Romo sekaligus mewakili Pimpinan Universitas Negeri Makassar, menyampaikan sambutan dan membuka secara resmi Malam Pangngada’kang.

Pertunjukan kemudian berlanjut dengan Tari Pepe’-Pepe’ka ri Makka, kesenian tradisional Makassar yang mengisahkan Nabi Ibrahim AS ketika dibakar oleh Raja Namrud. Atas kehendak Allah SWT, api tidak membakar Nabi Ibrahim AS.

Tarian yang berkembang seiring penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, khususnya Gowa dan Makassar, dahulu digunakan sebagai media dakwah dan bagian dari ritual. Kini, Pepe’-Pepe’ka ri Makka juga tampil sebagai pertunjukan budaya dan hiburan. Atraksi api yang menjadi ciri khasnya semakin menarik perhatian hadirin, sekaligus membawa pesan tentang keteguhan iman dan kebesaran Allah SWT.

Semarak malam semakin terasa saat MC mengajak seluruh hadirin mengikuti Tes Jargon LATSARNAS IX. Dengan penuh energi, mereka meneriakkan jargon bersama:

“LATSARNAS IX!”
“SIGAP DALAM AKSI!”
“IKHLAS DALAM TANTANGAN!”

Teriakan tersebut menggema di Area Pascasarjana UNM dan menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kekompakan lintas perguruan tinggi.

Menjelang akhir acara, MC menyampaikan pantun:

“Jalan-jalan ke Makassar,
jangan lupa ke Pantai Losari,
saya Kak Ainun dan Kak Alya,
minta maaf, pamit undur diri.”

Seluruh prosesi kemudian ditutup dengan ajakan mengucapkan hamdalah sebagai bentuk syukur atas terlaksananya Malam Pangngada’kang.

Meski acara resmi telah berakhir, kebersamaan masih berlanjut melalui seru-seruan, makan bersama, dan sesi foto. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh pihak untuk saling mengenal lebih dekat setelah menjalani berbagai agenda LATSARNAS.

Di balik terlaksananya malam tersebut, terdapat kerja sama berbagai unsur reka kerja, mulai dari ketua dan wakil ketua, sekretaris, bendahara, penanggung jawab umum, korlap, westelive, seksi kegiatan, administrasi, sarana dan prasarana, konsumsi, dana dan sponsor, kesehatan dan keamanan, hingga publikasi dan dokumentasi.

Malam Pangngada’kang menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Makassar sekaligus mempererat persaudaraan Pramuka Perguruan Tinggi. Perpaduan seni tradisional, nilai adat, semangat kepramukaan, dan kebersamaan menjadikan malam itu sebagai salah satu pengalaman berkesan dalam pelaksanaan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.


Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : Humas UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

Tiga Hari Penjemputan Peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Menyatukan Langkah Pramuka Perguruan Tinggi di Kota Makassar.

Tiga Hari Penjemputan Peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Menyatukan Langkah Pramuka Perguruan Tinggi di Kota Makassar.

Makassar, 27 September 2026 — Kedatangan peserta dari berbagai penjuru Indonesia mulai mewarnai Kota Makassar menjelang pelaksanaan Lomba Aksi dan Prestasi Pramuka Perguruan Tinggi (LATSARNAS PERTI) IX Tahun 2026. Untuk memastikan seluruh peserta dapat tiba dengan aman dan terarah, UKM Pramuka UNM melaksanakan proses penjemputan selama tiga hari, yakni pada 25, 26, dan 27 September 2026.

Proses penjemputan dilakukan di berbagai titik kedatangan, mulai dari pelabuhan, terminal, bandara, hingga lokasi persinggahan peserta. Dalam pelaksanaannya, setiap penjemputan didampingi oleh Koordinator Lapangan (KORLAB) serta tim Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi (PDD) yang bertugas mendampingi perjalanan sekaligus mengabadikan momen kedatangan peserta.

Hari Pertama: Menyambut Kedatangan Peserta dari Berbagai Daerah

Jumat, 25 September 2026, menjadi awal dari rangkaian penjemputan peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026. Sejak pagi, panitia telah bergerak menuju sejumlah titik kedatangan untuk menyambut peserta yang datang dari berbagai daerah.

Penjemputan pertama dilakukan terhadap peserta dari Universitas Mulawarman pada pukul 07.00 WITA di Pelabuhan Anging Mammiri. Tim KORLAB melakukan koordinasi dengan peserta setibanya di pelabuhan, kemudian membantu mengondisikan peserta dan barang bawaan sebelum diarahkan menuju kendaraan yang telah disiapkan. Tim PDD turut mendokumentasikan proses kedatangan tersebut.

Tidak lama berselang, pada pukul 08.00 WITA, peserta dari Universitas Sulawesi Barat tiba dan langsung menuju lokasi kegiatan. Setibanya di lokasi, peserta diarahkan oleh panitia untuk melakukan proses pengondisian dan mendapatkan informasi mengenai tempat serta rangkaian kegiatan yang akan diikuti.

Pada pukul 10.00 WITA, penjemputan dilakukan terhadap peserta dari UIN Datokarama Palu di Terminal Teuku Umar. Panitia berkoordinasi dengan peserta di titik yang telah ditentukan, kemudian mendampingi mereka bersama barang bawaan menuju kendaraan penjemputan.

Di waktu yang sama, tim lainnya melakukan penjemputan peserta dari STAI Yamra Merauke di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Setelah bertemu dengan peserta, KORLAB memastikan seluruh peserta telah terkondisikan sebelum diarahkan menuju lokasi kegiatan. Seluruh proses tersebut turut diabadikan oleh tim PDD.

Memasuki siang hari, pada pukul 12.00 WITA, peserta dari Universitas Syiah Kuala Aceh tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Panitia menyambut peserta di area kedatangan, membantu mengondisikan peserta beserta perlengkapannya, kemudian mendampingi perjalanan menuju lokasi kegiatan.

Rangkaian penjemputan hari pertama bahkan berlangsung hingga dini hari. Pada pukul 01.00 WITA, peserta dari Universitas Jember tiba di Pelabuhan Anging Mammiri. Meski waktu kedatangan berada di luar jam aktivitas utama, panitia tetap melakukan koordinasi dan pendampingan hingga peserta siap melanjutkan perjalanan menuju lokasi kegiatan.

Hari pertama menjadi gambaran awal kesibukan panitia dalam menyambut peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia. Setiap kedatangan tidak hanya menjadi proses penjemputan, tetapi juga menjadi kesempatan pertama untuk menyambut dan memberikan rasa aman kepada peserta yang baru tiba di Kota Makassar.

Hari Kedua: Penjemputan Berlanjut hingga Malam Hari

Memasuki Sabtu, 26 September 2026, proses penjemputan kembali dilanjutkan. Panitia masih bergerak di sejumlah titik untuk memastikan peserta yang datang pada hari kedua dapat tiba di lokasi kegiatan dengan baik.

Pada pukul 15.30 WITA, peserta dari Universitas Negeri Makassar PGSD Bone dijemput di lokasi persinggahan keluarga peserta. KORLAB melakukan koordinasi dengan peserta, memastikan perlengkapan telah siap, kemudian mendampingi mereka untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi kegiatan. Tim PDD turut mengabadikan proses tersebut.

Sore hingga malam hari menjadi waktu yang cukup padat bagi panitia. Pada pukul 18.15 WITA, peserta dari Universitas Sebelas Maret tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Panitia menyambut peserta di area kedatangan, mengarahkan mereka menuju titik penjemputan, kemudian mendampingi perjalanan menuju lokasi kegiatan.

Lima menit kemudian, tepatnya pukul 18.20 WITA, peserta dari Universitas Cokroaminoto Palopo dijemput dan langsung diarahkan menuju lokasi kegiatan. Tim KORLAB memastikan peserta telah mendapatkan arahan dan berada dalam kondisi siap untuk melanjutkan perjalanan, sementara tim PDD mendokumentasikan proses kedatangan.

Rangkaian penjemputan hari kedua berlanjut hingga malam. Pada pukul 22.10 WITA, panitia menyambut peserta dari Universitas Teuku Umar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Kedatangan peserta Universitas Teuku Umar dari Banda Aceh menjadi salah satu momen yang memiliki cerita tersendiri. Salah seorang pesertanya, Kak Dafi, datang ke Kota Makassar dengan membawa sesuatu yang bukan sekadar perlengkapan kegiatan, tetapi memiliki nilai emosional dalam perjalanan kepramukaannya.

Kak Dafi membawa sepatu yang telah menemaninya sejak SMA. Sepatu tersebut selalu digunakan dalam berbagai kegiatan kepramukaan, mulai dari proses penyelesaian TKU Bantara, Laksana, hingga BERTKU Pandega.

Setelah menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Kota Makassar, sepatu tersebut kembali dibawa untuk menemani langkah Kak Dafi dalam LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

“Saya memang punya keinginan untuk berkunjung ke Kota Makassar dengan membawa sepatu yang sangat saya sayangi sejak SMA. Sepatu ini selalu saya gunakan di setiap kegiatan kepramukaan, mulai dari proses penyelesaian TKU Bantara, Laksana, sampai BERTKU Pandega. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, saya akan menggunakan sepatu ini di kegiatan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 di Kota Makassar.”

Bagi Kak Dafi, sepatu tersebut bukan hanya bagian dari perlengkapan kegiatan. Sepatu itu menjadi saksi perjalanan panjangnya dalam kepramukaan dan kini kembali menjadi bagian dari cerita baru yang akan ia ukir di Kota Makassar.

Hari Ketiga: Menyambut Peserta yang Tiba di Penghujung Penjemputan

Pada Minggu, 27 September 2026, rangkaian penjemputan memasuki hari ketiga sekaligus menjadi bagian akhir dari proses penyambutan peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026.

Pagi hari, pada pukul 08.00 WITA, panitia melakukan penjemputan peserta dari Universitas Malikussaleh di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Setibanya peserta, KORLAB melakukan koordinasi dan pengondisian sebelum peserta diarahkan menuju kendaraan penjemputan. Tim PDD turut mendokumentasikan proses kedatangan hingga perjalanan peserta menuju lokasi.

Selanjutnya, pada pukul 09.00 WITA, panitia menyambut peserta dari Universitas Politeknik Sorowako di Terminal Regional Daya. Peserta yang telah tiba kemudian dikondisikan bersama barang bawaannya, mendapatkan arahan dari panitia, dan selanjutnya didampingi menuju lokasi kegiatan.

Sementara itu, peserta dari Universitas Muhammadiyah Bone langsung menuju lokasi kegiatan. Setibanya di lokasi, panitia melakukan koordinasi dan membantu mengarahkan peserta untuk menyesuaikan diri dengan tempat serta rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan.

Dengan kedatangan peserta dari Universitas Malikussaleh, Universitas Politeknik Sorowako, dan Universitas Muhammadiyah Bone, rangkaian penjemputan selama tiga hari pun terlaksana.

Tiga Hari, Beragam Perjalanan, Satu Tujuan

Selama tiga hari, proses penjemputan peserta LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 menjadi bagian penting dalam menyambut kedatangan Pramuka Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah Indonesia. Panitia tidak hanya bertugas menjemput, tetapi juga memastikan peserta mendapatkan pendampingan sejak tiba hingga berada di lokasi kegiatan.

Keterlibatan KORLAB dalam mengawal perjalanan dan PDD dalam mendokumentasikan setiap proses menjadi bagian dari upaya panitia memberikan pelayanan terbaik kepada peserta.

Dari pelabuhan, terminal, bandara, hingga lokasi kegiatan, setiap peserta datang membawa cerita dan pengalaman masing-masing. Ada yang datang bersama rombongan, ada yang menempuh perjalanan panjang, dan ada pula yang membawa benda penuh kenangan seperti sepatu kesayangan Kak Dafi.

Seluruh perjalanan tersebut akhirnya bermuara pada satu tujuan: bertemu, bersilaturahmi, berbagi pengalaman, dan mengikuti LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 di Kota Makassar.

Kedatangan para peserta menjadi awal dari rangkaian perjalanan yang lebih besar dalam LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, sekaligus menjadi momentum untuk mempertemukan semangat kepramukaan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.



Citizen :  Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : Humas UKM Pramuka UNM


Selengkapnya...

Sunday, 20 September 2026

SCOUTALKS: From Waste to Worth, Saat Pramuka UNM Bertemu dan Bergerak untuk Bumi

SCOUTALKS: From Waste to Worth, Saat Pramuka UNM Bertemu dan Bergerak untuk Bumi


Makassar, 20 September 2026 — UKM Pramuka Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menghadirkan ruang untuk belajar, berbagi, dan membangun kolaborasi melalui kegiatan SCOUTALKS: From Waste to Worth. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian bazar menuju LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, sekaligus mengangkat isu lingkungan melalui tema “Dari Pramuka untuk Bumi: Mengamalkan Dasa Darma Melalui Aksi.”

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 20 September 2026, mulai pukul 19.30 WITA hingga selesai, bertempat di Café Etika Studio, Jl. Tamalate No. Kav. 8, Karunrung, Makassar. Selain menjadi bagian dari persiapan menuju LATSARNAS, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan anggota Pramuka dengan pembina, purna, serta berbagai organisasi mahasiswa di lingkungan UNM.

Dari Persoalan Sampah ke Aksi Nyata

SCOUTALKS menghadirkan Kak Yayang Malil sebagai pemateri. Ia merupakan Founder Berdaur Indonesia, Dewan Pembina Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras (SINTALARAS), serta aktif sebagai broadcaster, reporter, MC, KOL, dan speaker. Saat ini, Kak Yayang juga sedang menempuh Master’s Program in Environmental Management di Universitas Hasanuddin.

Dalam pemaparannya, Kak Yayang mengajak peserta melihat kembali persoalan sampah yang sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari. Diskusi bahkan diawali dengan pertanyaan sederhana, “Sampah apa saja yang kamu hasilkan sejak pagi tadi?” Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengajak peserta menyadari bahwa persoalan lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan kecil setiap orang.

Materi kemudian membahas bagaimana sampah dapat kehilangan nilainya ketika tercampur. Plastik bersih, sisa makanan, dan kertas yang tercampur akan lebih sulit dimanfaatkan kembali. Sebaliknya, pemilahan sejak awal membuka peluang bagi sampah untuk kembali menjadi bahan baku, kompos, maupun produk baru.

Peserta juga diajak menghubungkan persoalan lingkungan dengan nilai-nilai Dasa Darma Pramuka. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, misalnya, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan. Begitu pula sikap hemat, cermat, disiplin, rajin, terampil, hingga rela menolong dapat diterapkan melalui kebiasaan mengurangi sampah, memilah, mengolah, serta mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Tidak berhenti pada pembahasan, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai bentuk pengelolaan sampah, seperti kompos, ecobrick, bank sampah, dan upcycling. Melalui cara tersebut, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Mengajak Pramuka Mulai dari Kebiasaan Kecil

Salah satu pesan yang dibawa dalam sesi ini adalah bahwa aksi lingkungan tidak harus dimulai dari gerakan besar. Dalam materi, peserta diajak mengikuti Tantangan 7 Hari, mulai dari membawa tumbler dan kotak makan, memilah sampah basah dan kering di rumah, hingga mengajak satu teman atau satu regu untuk melakukan pemilahan bersama.

“Satu kebiasaan kecil yang konsisten lebih berarti dari niat besar tanpa aksi.”

Pesan tersebut menjadi gambaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan yang sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten.

Dihadiri Berbagai Organisasi Mahasiswa

Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh anggota UKM Pramuka UNM. Para pembina dan purna anggota turut hadir, bersama sejumlah organisasi mahasiswa di lingkungan UNM, di antaranya LPM Penalaran, UKM SINTALARAS, HMJ Olahraga, HMJ Teknik, serta organisasi mahasiswa lainnya.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan memperluas ruang kolaborasi antarlembaga mahasiswa. Di tengah suasana yang santai, peserta dapat berdiskusi mengenai persoalan lingkungan sekaligus saling mengenal dan membangun komunikasi untuk kegiatan-kegiatan berikutnya.


Jalannya SCOUTALKS dipandu oleh Kak Aldi, anggota Ambalan Ranggong Dg. Romo, sebagai MC. Sementara sesi diskusi dimoderatori oleh Kak Aulia, anggota Ambalan Opu Dg. Risadju.

Dari SCOUTALKS Menuju LATSARNAS PERTI IX

Selain membawa isu lingkungan, kegiatan ini juga menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan dan menyemarakkan pelaksanaan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Melalui SCOUTALKS, UKM Pramuka UNM tidak hanya mengajak peserta untuk berbicara tentang lingkungan, tetapi juga menunjukkan bahwa semangat Pramuka dapat hadir melalui aksi nyata. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju LATSARNAS sekaligus memperkuat hubungan dengan berbagai unsur di lingkungan kampus.


Pada akhirnya, SCOUTALKS: From Waste to Worth membawa satu pesan sederhana: menjaga bumi bukan hanya tentang berbicara mengenai sampah, tetapi tentang apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.

Dari Pramuka. Untuk Bumi. Untuk masa depan. 





Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : Humas UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...

Tuesday, 26 May 2026

Langkah Awal Menuju LATSARNAS IX 2026, UKM Pramuka UNM Jalin Sinergi Bersama BASARNAS Sulawesi Selatan

Langkah Awal Menuju LATSARNAS IX 2026, UKM Pramuka UNM Jalin Sinergi Bersama BASARNAS Sulawesi Selatan

         

Makassar, 26 Mei 2026 — Persiapan menuju LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 mulai dilakukan oleh UKM Pramuka Universitas Negeri Makassar (UNM). Sebagai bagian dari persiapan tersebut, UKM Pramuka UNM melakukan audiensi ke sejumlah instansi untuk membangun komunikasi, membuka ruang kolaborasi, sekaligus memastikan dukungan dari berbagai pihak.

Salah satu langkah awal tersebut dilakukan melalui kunjungan ke Kantor BASARNAS Sulawesi Selatan pada 26 Mei 2026. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi UKM Pramuka UNM untuk memperkenalkan rencana pelaksanaan kegiatan sekaligus berdiskusi mengenai bentuk sinergi yang dapat dibangun bersama BASARNAS. 

Dalam pertemuan tersebut, rombongan UKM Pramuka UNM disambut oleh Bapak Haris Supriadi, S.Sos., selaku Kepala Seksi Sumber Daya, dan Bapak Arman Amiruddin, S.E., selaku Rescuer Mahir. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan terbuka, dengan pembahasan seputar persiapan kegiatan, koordinasi, serta dukungan yang dapat diberikan untuk menunjang pelaksanaan LATSARNAS.

             

Dukungan tersebut turut disampaikan oleh pihak BASARNAS Sulawesi Selatan yang menyatakan kesiapan untuk membantu menyukseskan kegiatan sekaligus membangun kerja sama yang lebih luas dengan UKM Pramuka UNM.

“Kami dari pihak BASARNAS tentunya sangat siap membantu dan menyukseskan kegiatan ini, dan dari sini kami harapkan bisa membangun kerja sama yang baik dalam menumbuhkan kesadaran anak Pramuka dalam perannya sebagai pemuda yang siap dan tanggap terhadap bencana.”

Harapan tersebut sejalan dengan semangat kegiatan yang tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi Pramuka Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi berbagai situasi di masyarakat, termasuk kebencanaan.

Audiensi ini dihadiri langsung oleh jajaran pengurus dan panitia UKM Pramuka UNM, yakni Kak Aidil selaku Ketua Racana Ranggong Dg. Romo, Kak Fidyah selaku Ketua Racana Opu Dg. Risadju, Kak Fahrul selaku Ketua Panitia LATSARNAS, Kak Riadil Agra Cendrana selaku Bendahara Racana, serta Kak Riswandi selaku Sekretaris Racana Ranggong Dg. Romo.

Bagi UKM Pramuka UNM, pertemuan ini menjadi bagian dari proses membangun jejaring dengan berbagai pihak sebelum kegiatan berlangsung. Koordinasi sejak awal diharapkan dapat membantu mempersiapkan kegiatan secara lebih matang, termasuk dalam menciptakan pelaksanaan yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh peserta. 

UKM Pramuka UNM juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Haris Supriadi, S.Sos., dan Bapak Arman Amiruddin, S.E., atas sambutan, arahan, serta dukungan yang diberikan. Dukungan tersebut menjadi energi tersendiri bagi panitia untuk terus mematangkan persiapan menuju pelaksanaan LATSARNAS.

Pertemuan bersama BASARNAS Sulawesi Selatan menjadi salah satu langkah awal dari rangkaian komunikasi UKM Pramuka UNM dengan berbagai pihak. Dengan semangat sinergi dan kolaborasi, persiapan terus dilakukan untuk menghadirkan LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026 sebagai ruang belajar, bertumbuh, dan berkontribusi bagi Pramuka Perguruan Tinggi.

Bersinergi hari ini, bergerak bersama untuk LATSARNAS IX 2026. 





Citizen : Zulfiqriyah Tul Muaeni

Editor : UKM Pramuka UNM

Selengkapnya...