Sunday, 27 September 2026

Seminar Kebencanaan Warnai Rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Hadirkan Narasumber dari Basarnas, Dinsos, dan BPBD Sulawesi Selatan

Seminar Kebencanaan Warnai Rangkaian LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026, Hadirkan Narasumber dari Basarnas, Dinsos, dan BPBD Sulawesi Selatan


Makassar, 28 September 2026 – Sebagai bagian dari Latihan Search and Rescue Tingkat Nasional Perguruan Tinggi (LATSARNAS PERTI) ke-IX Tahun 2026, Racana Ranggong Dg. Romo & Ambalan Opu Dg. Risadju menggelar Seminar Kebencanaan pada Senin, 28 September 2026, pukul 08.00 WITA hingga selesai. Seminar ini bertempat di Ballroom Teater Lt. 3 Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM).

Seminar ini diikuti oleh seluruh peserta LATSARNAS PERTI IX dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bersama panitia dan tamu undangan. Kegiatan ini menjadi bekal awal bagi peserta sebelum menjalani materi dan praktik lapangan pada hari-hari berikutnya.

Tiga Narasumber dari Instansi Penanggulangan Bencana

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari instansi yang berperan langsung dalam penanggulangan bencana di Sulawesi Selatan:

Kak Haris Supardi, S.Sos., M.M., Kepala Seksi Sumber Daya Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan, Kak Herman, S.E., M.H., Ketua Bidang Linjamsos Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Kak Dr. Amson Padolo, S.Sos., M.Si., Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan

Kak Rifki Hidayat memandu jalannya seminar, mulai dari penyampaian materi oleh ketiga narasumber hingga sesi tanya jawab.

Adapun Materi yang Disampaikan tentang

Kak Haris Supardi membahas tentang, peran Basarnas dalam operasi pencarian dan pertolongan, serta kesiapan sumber daya SAR saat terjadi bencana.

Kak Herman menyampaikan materi tentang perlindungan dan jaminan sosial bagi korban bencana, termasuk penanganan pengungsi dan bantuan sosia.

Kak Dr. Amson Padolo memaparkan sistem penanggulangan bencana di Sulawesi Selatan, mulai dari mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab. Pertanyaan yang di berikan oleh peserta salah satu pertanyaan yang di tanyakan oleh peserta adalah

“Kenapa pada saat terjadinya bencana dan ada yang namanya lokasi pengungsian, tetapi kenapa ada kasus kematian dilokasi pengungsian padahal sudah ditangani oleh pihak BASARNAS sendiri”

Menanggapi pertanyaan tersebut, pemateri menjelaskan bahwa ketika terjadi bencana, proses penanganan tidak berhenti pada pencarian dan penyelamatan oleh Basarnas. Operasi SAR memang menjadi bagian penting dalam fase tanggap darurat, tetapi setelah korban ditemukan dan dievakuasi, masih ada proses penanganan berikutnya, seperti pelayanan kesehatan, pengelolaan tempat pengungsian, pemenuhan kebutuhan logistik, hingga perlindungan bagi kelompok rentan.

“Jadi, ketika kita berbicara tentang korban yang meninggal di lokasi pengungsian, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa itu merupakan kegagalan dari satu pihak. Penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama dan melibatkan banyak unsur. Basarnas memiliki tugas dalam pencarian dan pertolongan, sementara setelah proses evakuasi ada sektor lain yang juga memiliki peran dalam pelayanan kesehatan, pengelolaan pengungsian, logistik, dan perlindungan masyarakat.”

Pemateri juga menekankan bahwa kondisi di lapangan sangat kompleks sehingga membutuhkan sistem komando, koordinasi lintas sektor, komunikasi yang efektif, serta pembagian tugas yang jelas. Karena itu, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh satu instansi, melainkan oleh kerja sama seluruh pihak yang terlibat.

“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh unsur dapat berkoordinasi. Tujuan utama kita adalah menyelamatkan jiwa dan memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. Karena itu, manajemen bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama.”

Diskusi ini memperkaya pemahaman peserta tentang tantangan nyata di lapangan saat bencana terjadi.

Bekal Ilmu untuk Relawan Pramuka

Seminar ditutup dengan penyerahan cendera mata/sertifikat kepada narasumber dan foto bersama. Melalui seminar ini, peserta diharapkan tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami bagaimana berbagai instansi bekerja sama dalam penanggulangan bencana. Dengan begitu, Pramuka Perguruan Tinggi siap mengambil peran sebagai relawan yang tanggap dan terkoordinasi.

Semangat ini sejalan dengan motto LATSARNAS PERTI IX Tahun 2026:

"SIGAP DALAM AKSI, IKHLAS DALAM PENGABDIAN."



Citizen : Shafira Ham Volina

Editor : Humas UKM Pramuka UNM

Load disqus comments

0 comments